GuidePedia

0
PKS Kepri - Bagi sebagian orang, menjadi calon legislatif (caleg) tentu saja harus bermodal besar. Di tengah situasi masyarakat yang pragmatis, ongkos politik akan begitu besar. Tapi tidak bagi Hartoyo Jabaruddin.

Pria kelahiran Grobogan, Jawa Tengah, 5 Agustus 1973 ini punya pandangan lain. Bapak dua anak yang berprofesi sebagai tukang sol sepatu ini percaya diri maju menjadi caleg dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) periode 2014-2019 meski modal minim.

Bagi Hartoyo, modal dalam pengertian uang, meski tetap diperlukan, adalah nomor dua. Yang terpenting baginya rajutan kekerabatan sosial yang telah lama ia jalin.

"Saya jadi caleg didorong oleh teman-teman PKS. Itu amanah dari Tuhan, dari masyarakat," kata Hartoyo saat ditemui VIVAnews di tempat kerjanya.

Meski harus berhadapan dengan caleg bermodal tebal, Hartoyo tak gentar. Tekadnya sudah bulat. Dia pun maju melalui Dapil Denpasar Timur dengan nomor urut 9.

"Jika awalnya dicalonkan teman-teman, maka selanjutnya nanti saya bersungguh-sungguh, bertanggungjawab kepada masyarakat," ucap dia.

Hartoyo mengaku tak banyak modal. Dalam sehari saja, dia hanya mampu mengumpulkan Rp50 ribu sampai Rp100 ribu, dengan menjual jasa sol sepatu. Tapi, dia mengaku punya modal investasi sosial.

Sejak berkecimpung di PKS 15 tahun silam, Hartoyo sudah banyak berbuat untuk masyarakat. Utamanya basis suara muslim yang ia bidik menjadi kantong suaranya.

"Jika nanti terpilih, artinya saya dipilih oleh Tuhan dan masyarakat. Tinggal menjalaninya sebaik-baiknya. Saya berharap penuh untuk bisa berbuat baik dan bermanfaat untuk masyarakat," kata Hartoyo diplomatis.

Bagi Hartoyo, hidup dan proses pencalegannya berjalan mengalir saja. Meski begitu, Hartoyo tetap berupaya sungguh-sungguh mengejar impian menjadi wakil rakyat.

Dia menyulap nota usahanya menjadi kartu nama. Nota yang diberikan kepada pelanggan, selain sebagai bukti pembayaran, juga tercantum ajakan untuk mencoblosnya pada Pileg April mendatang.

Hartoyo optimistis dapat melenggang dengan mulus menuju DPRD Kota Denpasar. "Saya sudah menjalin hubungan dengan masyarakat, komunitas-komunitas. Tinggal menindaklanjutinya saja, lebih mengintensifkan saja," katanya yakin.

Ia menyandarkan proses pencalegannya kepada masyarakat, Tuhan dan dirinya sendiri. "Itu bekal saya yang paling utama," ucapnya.

Bagi dia, modal sosial yang dimiliki kelak dapat digunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan masyarakat. Jika terpilih, dia tidak akan berbuat sesuatu yang melanggar.

"Kalau jadi pemimpin itu, kalau sudah baik secara lahir batin, kemudahan akan dimunculkan. Kesulitan akan akan dimudahkan. Pasti selalu ada jalan ke luar. Lain halnya kalau sudah tidak baik," kata Hartoyo.

Post a Comment

 
Top