Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta menilai polemik kenaikan dan penurunan harga elpiji ukuran 12 kilogram yang terjadi saat ini seperti sebuah "dagelan".

"Kalau ada yang menganggap dagelan, saya kira tidak salah karena peristiwanya terjadi serba mendadak, bahkan kami belum sempat memberi respons," katanya di Semarang, Rabu.

Hal tersebut disampaikan Anis Matta saat menggelar jumpa pers sebelum menghadiri acara dialog terbuka kader PKS di Gedung Wanita Semarang.

Menurut dia, pemerintah tidak mungkin kalau tidak mengetahui kenaikan harga elpiji yang dilakukan PT Pertamina.

"Mustahil kalau pemerintah tidak mengetahui dan Pertamina pasti juga tidak punya nyali untuk melakukan langkah sendiri tanpa persetujuan dari pemerintah," ujarnya didampingi Sekjen DPP PKS Taufik Ridho dan Ketua DPW PKS Jateng Abdul Fikri Faqih.

Permasalahan seperti ini, kata dia, sudah sering terulang dan biar menjadi catatan penting untuk pemerintahan yang akan datang.

"Pola-pola pengambilan keputusan seperti itu terlalu sering mengecewakan publik," kata mantan Wakil Ketua DPR RI itu.

Sebelumnya PT Pertamina menaikan harga elpiji 12 kg sebesar Rp3.959 per Januari 2014, karena selama ini kerugian yang ditanggung berdasarkan audit BPK sebesar Rp7,7 triliun.

Namun kebijakan tersebut mendapatkan banyak kritikan. Kebijakan tersebut juga menuai kecaman dari masyarakat dan mengakibatkan dampak kelangkaan elpiji.

Presiden meminta Pertamina meninjau ulang kebijakan tersebut. Pertamina pada Senin, 6 Januari 2014, kemudian mengumumkan revisi kenaikan harga elpiji 12 kg. Pertamina memutuskan kenaikan harga gas sebesar Rp1.000 per kg dan berlaku mulai Selasa, 7 Januari 2014.(antaranews.com)