GuidePedia

0

PKS Kepri - PRESIDEN Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Anis Matta membagi perjalanan sejarah Indonesia menjadi tiga gelombang besar. Pertama, "menjadi Indonesia" yang berlangsung sejak abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Kedua, "menjadi negara modern" yang terjadi sejak merdeka sampa era Reformasi, dan ketiga adalah gelombang "sejarah baru" yang dimulai 2014 sampai waktu yang akan ditentukan oleh sikap bangsaini ke depan. 

"Pemilu 2014 menjadi strategis bukan semata disebabkan peralihan kekuasaan, tapi peralihan sejarah. Pergantian kepemimpinan itu biasa dalam demokrasi. Yang lebih penting, apa maknanya bagi perjalan kita sebagai bangsa," terang Anis Matta saat tampil sebagai pembicara pada Mukernas VIII Wahdah Islamiyah di Asrama Haji Sudiang, Makassar 5 Januari.  

Menurutnya, jika pendorong (dirve) gelombang sebelumnya berasal dari luar; kolonialisme (gelombang I)  dan Perang Dingin (gelombang II), maka drive gelombang ketiga berasal dari dalam, yaitu perubahan signifikan komposisi demografi.

Anis menyebut perubahan yang utama adalah proporsi orang di bawah 45 tahun akan mencapai lebih dari 60 persen dari populasi. Ini disebutnya "the new majority", kelompok mayoritas baru yang ada di Indonesia sekarang ini. Yang diistilahkan sejumlah ekonom dan ahli kependudukan sebagai bonus demografi atau "dividen demografi".

Anis melanjutkan, tantangan politik yang segera muncul di gelombang ini adalah perlunya kategorisasi baru yang bukan berbasis ideologi untuk mewakili kelompok. "Semua polarisasi lama dalam politik, apalagi polarisasi ideologi tidak lagi relevan. Makanya, kita harus mencari ide tentang "the next Indonesia" yang benar-benar mewakili ruh zaman, mewakili orang-orang yang berumur di bawah 45 tahun," sambung mantan wakil ketua DPR RI ini.

Pada gelombang baru ini, orang akan mengagungkan pertumbuhan, tetapi akan disandingkan dengan pertanyaan tentang kualitas hidup. Masyarakat Indonesia ke depan di-drive oleh usaha mencari bukan sekedar kesejahteraan, tetapi hidup yang lebih berkualitas.

Anis juga meyakini, di gelombang ketiga, akan lahir native democracy. Generasi yang sejak lahir hanya mengenal demokrasi. Mereka tidak  melewati dan merasakan perubahan dari situasi Orde Baru ke zaman Reformasi. Makanya, memandang demokrasi sebagai given (terberi), bukan hasil perjuangan berdarah-darah. 

"Karena gelombang sejarah ini di-drive oleh perubahan demografi, maka orientasi kemanusiaan menjadi utama. Tidak perlu lagi ada pertentangan antara negara dan masyarakat. Negara kembali ke makna dasar sebagai organisasi sosial yang menciptakan keteraturan. 

Konsolidasi sosial akan membesarkan komunitas hingga mampu bernegosiasi dengan negara. Manusia sebagai orientasi utama ini menuntut pendekatan kepemimpinan (leadership approach) baru," tegas di depan seribuan kader Wahdah Islamiyah se-Indonesia. 

Putera kelahiran Bone ini  juga menjelaskan peta kekuatan Islam di masa mendatang bukan terutama pada basis teritorinya, akan tetapi pada kekuatan narasi dan ide-idenya. 

Ketua Umum DPP Wahdah Islamiyah, Zaitun Rasmin merespons positif wacana dan gagasan Anis  di Muktamar Wahdah. "Pak Anis tidak hanya memiliki fikiran cemerlang tapi juga pengetahuan luas, dia aset berharga bangsa ini," tutup Zaitun Rasmin Lc.  

Anggota DPRD Kota Makassar dari PKS, Iqbal Djalil LC mengaku gagasan sejarah Indonesia gelombang ketiga menyisakan tantangan bagi generasi ini. "Ulasan itu mengingatkan gerakan Islam lebih kuat pada konsep dan ide-ide yang selaras dengan gagasan bangsa ini," tambahnya. (ysd) (fajar.co.id)

Post a Comment

 
Top